All about Innovation💡, Law⚖️, Management📝, & Soccer⚽

IWA

Sabtu, 08 Juni 2019

Kualitas Liga Primer Inggris yang Harus Mulai Ditiru di Liga 1 Indonesia

Tahun 2019 harus diakui menjadi tahun terbaik bagi kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Inggris, yaitu Liga Primer Inggris / English Premier League. Indikatornya:
1. Wakil dari Liga Primer Inggris berjaya di babak final pada dua kompetisi terbaik benua Eropa (bahkan diakui yang terbaik juga di dunia) yaitu:
- Kasta pertama final Liga Champions UEFA 2018/2019, diwakili Tottenham Hotspur vs Liverpool, dengan skor 0-2 dan juaranya Liverpool
- Kasta kedua final Liga Eropa UEFA 2018/2019, diwakili Chelsea vs Arsenal, dengan skor 4-1 dan juaranya Chelsea
Dominasi tersebut masih berlanjut karena sang juara dari kedua kompetisi tersebut akan dipertemukan kembeli dan berduel memperebutkan piala Super Eropa 2019.

2. Sebanyak 17 tim Liga Primer mendapatkan pemasukan hak siar yang lebih besar dari liga-liga lainnya, bahkan dari juara Liga Champions UEFA itu sendiri (sumber: goal.com). Jangan heran, pemasukan tim-tim medioker dari liga kompetitor jauh lebih rendah dengan tim-tim medioker Liga Primer Inggris. Hal itulah yang membuat investor lebih senang berinvestasi di Liga Primer Inggris dan tentu saja menarik minat pemain berikut pelatih kelas dunia untuk bergabung di Liga Primer Inggris

3. Uang melimpah & sponsor berdatangan. Tentu saja dengan keadaan tersebut bisa membeli fasilitas terbaik, termasuk VAR/Video Assistant Referee) yang harganya mencapai Rp. 7 Miliar😱. Ujung dari pengadaan fasilitas terbaik tentu saja kualitas liga yang berujung pada prestasi tim nasional. Liga Inggris menjadi surga bagi pemain maupun pelatih lokal Inggris, Eropa, maupun luar Eropa untuk meningkatkan performa terbaiknya hingga dilirik tim nasional.

Kompetisi kasta tertinggi sepak bola di Indonesia (Liga 1) sebenarnya cukup prospektif. Sepak bola menjadi industri yang menggiurkan dan menggerakkan ekonomi kreatif bangsa. Namun, apakah itu saja cukup? Liga 1 Indonesia yang tahun lalu menempati peringkat 3 terbawah di Asia Tenggara (sumber: okezone.com), ternyata masih memiliki banyak masalah yang harus dibenahi, mulai dari jadwal pertandingan yang mudah sekali berubah dan ditunda, izin keramaian yang sulit didapat, wasit yang tidak adil, isu pengaturan skor, sampai kerusuhan oknum suporter yang masih saja terjadi.

Sudah saatnya operator Liga 1 Indonesia mengadakan riset, studi, banding, dan juga ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) terhadap kesuksesan Liga Primer Inggris yang sebentar lagi kembali dimulai (tanggal 10 Agustus 2019). Tentunya disesuaikan dengan kondisi yang ada, seperti finansial, perangkat pertandingan, ahli IT, dan sebagainya.

Saatnya Pihak Pengelola Liga 1 Indonesia, Terutama PSSI+PT. Liga, serta kepolisian, untuk Melakukan Studi Banding & ATM (Amati, Tiru, & Modifikasi) terhadap Operator Liga Primer Inggris & Pemangku Kepentingan Lainnya

Apa saja yang harus mulai ditiru dari Liga Primer Inggris  demi kemajuan Liga 1 Indonesia?

1. Menyusun jadwal pertandingan secara  tertib & sistematis, 
jarang sekali ditunda
- Di samping menggunakan sistem komputerisasi, penyusunan jadwal Liga Primer Inggris harus mendapatkan kesepakatan dari semua klub yang bertanding, termasuk pihak keamanan setempat
- Di Indonesia, saya perhatikan sistemnya kumaha engke/gimana nanti, yang penting operator sudah melaksanakan tugasnya untuk menyusun jadwal tanpa melibatkan pemangku kepentingan/stakeholder lain seperti klub yang bertanding dan pihak keamanan. Jangan heran, baru beberapa pertandingan sudah ada keberatan dari pihak klub dan pertandingan tiba-tiba ditunda akibat tidak mendapat izin keramaian dari kepolisian. Belum lagi jadwal pertandingan tunda terkadang terlalu dekat dengan pertandingan reguler.

2. Pihak kepolisian ikut aktif dan terlibat sejak awal penyusunan jadwal pertandingan, jarang mendengar izin keramaian tidak didapat
- Di Liga Primer Inggris, sejak jadwal dirumuskan, pihak keamanan setempat dilibatkan apakah jadwal pertandingan memang benar-benar aman untuk dilaksanakan atau tidak. Jika izin keramaian tidak didapat, itu benar-benar akibat situasi yang sangat darurat/di luar kemampuan manusia
- Di Indonesia. sistemnya kumaha engke/gimana nanti, pihak keamanan diberi jadwal pertandingan resmi, baru nyadar saat hari-H berdekatan dengan hari buruh, bentrok dengan pemilu, bentrok dengan kunjungan tamu negara, dan sebagainya. Akibatnya harus mengalah dan pertandingan sering ditunda, mengingat jumlah polisi masih tidak sebanding dengan penduduk setempat
- Ada peran asisten kepolisian dari pihak sipil (mirip satpol lah) yang disebut steward. Di Inggris, steward harus fokus menghadap penonton, sementara di Indonesia, steward malah ikut menonton bola, mungkin ke depannya harus direkrut steward yang bukan penggila bola hehe..
- Dilansir dari boombastis.com, demi menjaga keamanan suatu negara secara optimal, PBB menyarankan agar jumlah polisi sebanyak 222 untuk 100 ribu penduduk atau 1 polisi untuk 450 penduduk
- Di Inggris, rasio polisi dengan jumlah penduduk belum ideal (untuk rasionya saya belum dapat info) akibat masalah anggaran tahun 2018 yang menyebabkan banyak polisi yang terpaksa berhenti bekerja. Sementara di Indonesia, jumlah polisinya termasuk yang terbanyak di dunia setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, & Rusia. Tapi, anehnya tetap saja rasionya belum ideal, yaitu 1 polisi untuk 750 penduduk
- Walaupun rasio polisi di Ingris dan Indonesia sama-sama belum ideal, tapi tidak ada salahnya pihak kepolisian di Indonesia mengadakan riset dan studi banding ke Inggris, khususnya yang berkaitan dengan keamanan dan izin keramaian pertandingan sepak bola, karena jujur saja, kepolisian di Inggris lebih baik dalam mengamankan pertandingan sepak bola, termasuk dalam hal memberikan izin keramaian. Seharusnya bisa dibuat lebih simpel dan tidak ribet.

3. Sumber daya manusia dan fasilitas pendukung yang berkualitas  
- Untuk sumber daya manusia adalah kualitas pemain, tim pelatih, manajemen, wasit, operator liga, sampai suporternya sendiri. Lihat saja, jarak antara lapangan dengan bangku penonton sangat dekat, karena begitu yakin pertandingan akan tertib ditambah diawasi secara profesional. Oknum suporter Inggris pernah berbuat onar & brutal, dikenal dengan nama Hooligan, tapi semakin ke sini sudah semakin tertib mengingat oknum tersebut mendapatkan hukuman yang setimpal, bahkan sampai ada yang dihukum penjara seumur hidup
- Untuk suporter Liga 1 Indonesia, jarak antara lapangan dengan bangku penonton cukup jauh dan dibatasi sekat/pagar yang tinggi. Ini menandakan masih ada kekhawatiran suporter berbuat ulah. Ke depannya, perlu ada riset dan studi banding ke Inggris, bagaimana mereka berperilaku. Semua memiliki peran demi memajukan sepak bola.
- Sedangkan fasilitas pendukung seperti stadion, kondisi rumput, lahan parkir, perangkat teknologi (IT), perlengkapan untuk pemain, sport science, dan sebagainya. Semuanya tersedia dengan kualitas nomor 1, sehingga menjadi bahan riset dan studi banding untuk PSSI dan operator liga. Jika kualitas kompetisi semakin bagus, sponsor akan berdatangan, dan fasilitas terbaik akan didapatkan. Suporter pun akan betah berlama-lama di stadion dan rela mengeluarkan uang sebanyak apapun demi tim kesayangannya


4. Liga wajib berhenti saat tim nasional main atau ada Liga Champions
- Sehebat-hebatnya Liga Primer Inggris, pengelola setempat tetap tunduk pada organisasi sepak bola tertinggi di Inggris (FA), eropa (UEFA) dan tentu saja induknya (FIFA). Harus ada kesamaan persepsi dari FIFA dan cabangnya agar pelaksanaan liga ujungnya adalah tim nasional (timnas). Jadwal pertandingan dibuat sedemikian rupa agar jadwal timnas dan liga tidak bentrok. Ada waktu recovery walaupun masih diprotes klub akibat belum ideal, apalagi di Liga Primer Inggris ada pertandingan lembur saat libur akhir tahun/Boxing Days, tapi karena demi bisnis dan sudah disepakati bersama ya sudah dipatuhi saja. Juga ada Liga Champions UEFA & Liga Eropa UEFA. Bagi wakil Liga Primer Inggris yang berlaga di salah satu ajang tersebut disesuaikan jadwalnya
- Terkadang dikenal istilah virus FIFA di mana banyak pemain tumbang akibat turnamen tim nasional yang terlampau padat, mengingat jadwal di klubnya pun sudah luar biasa banyak. Namun mengingat ini sudah jadi kesepakatan bersama, maka risikonya pun ditanggung bersama, jadi bukan ulah FIFA🤪
- Nah uniknya di Indonesia, PSSI sebagai organisasi sepak bola tertinggi justru berani melanggar aturan FIFA dengan berdalih ada statuta PSSI yang lebih diprioritaskan untuk dipatuhi. Contoh: liga main timnas tetap jalan seperti sudah menjadi tradisi, toh klub yang pemainnya dipanggil timnas mendapatkan kompensasi yang besar. Ini sama saja membuat klub kehilangan sebagian kekuatannya di liga & hancur secara perlahan. Sebenarnya kalau niat, klub yang dirugikan bisa mengadu ke FIFA, masalahnya mereka sudah dibungkam oleh kompensasi dari PSSI dan malah takut dituntut balik mungkin hehe... Tapi, walau bagaimanapun, tradisi buruk tersebut harus diubah. Operator Liga 1 Indonesia juga wajib mengakomodir wakil Liga 1 Indonesia yang berjuang di Liga Champions Asia maupun Piala AFC.

Final Liga Champions 2019 Dikuasai Wakil Liga Primer Inggris. Bahkan,  Liga Primer Inggris Banyak Mengorbitkan Pemain Tim Nasional Kelas Dunia. Sumber Gambar Logo: Akun IG real.stav


5. VAR
- VAR atau Video Assistant Referee merupakan  teknologi yang membantu wasit untuk meninjau keputusan wasit utama dengan melihat rekaman video instan dan dikerjakan oleh beberapa pegawai khusus yang profesional tapi netral, biasanya meninjau apakah pemain lawan handsball atau tidak, diving atau tidak, bola sudah keluar lapangan atau belum, bola sudah melewati garis gawang (gol) atau tidak, & pemain sudah terjebak offside atau belum
- Demi meminimalisir kesalahan, VAR resmi digunakan di Liga Primer Inggris mulai musim 2019/2020 dan disetujui oleh klub yang terlibat di kompetisi. Tidak hanya kesiapan teknologinya, tapi juga pihak yang mengoperasikannya dan juga komunikasi efektif antara pihak yang mengoperasikan VAR dengan pengambil keputusan dalam pertandingan, yaitu tim wasit (sumber: www.tribunnews.com)
- Sedangkan operator Liga 1 Indonesia siap untuk menggunakan VAR pada putaran kedua kompetisi mulai musim 2019/2020 (sumber: bolatimes.com). Harga perangkat VAR lebih dari Rp. 7 Miliar. Masalahnya, sesuai standar FIFA, anggaran VAR dibebankan kepada klub tuan rumah. Untuk klub elite sih tidak masalah? tapi bagaimana dengan klub kecil? apa perlu disubsidi? atau ada sponsor khusus? Bagaimana dengan utang klub dan operator liga sebelumnya? Semoga bisa terealisasi putaran kedua musim ini, tapi dengan catatan utang klub dan operator liga diselesaikan terlebih dahulu. Di-update 18 Juni 2019: PSSI & operator liga 1 tahun 2019  batal menggunakan VAR dikarenakan keterbatasan Sumber Daya Manusia/SDM #sudahkuduga (sumber: https://bolalob.com).



6. Transparansi pengelolaan liga dan klub
- Transparansi utamanya dalam hal finansial, yaitu apa saja dan berapa pemasukan untuk liga maupun klub, bagaimana pengelolaannya, pembagian pendapatannya, serta pengeluarannya. Pengeluaran terbesar untuk mengontrak dan menggaji pemain berikut pelatih (dijelaskan secara rinci besaran nilai kontrak, gaji, durasi kontrak, asuransi, dan sebagainya). Operator Liga Primer Inggris berikut klub yang terlibat begitu disiplin dalam hal transparansi keuangan
- Sementara Liga 1 Indonesia masih menganggap beberapa hal (yang harusnya dibuka secara transparan) justru terlihat disembunyikan dengan dalih itu rahasia dan privasi perusahaan yang sudah diatur secara khusus (ada hukum perusahaannya). Tentunya hal ini tidak boleh dibiarkan, apalagi jika harta pribadi pemilik klub mencakup keuangan klub, seharusnya dipisah. Misal: tahun lalu klub Sriwijaya FC yang bertabur bintang tiba-tiba kolaps akibat manajernya kalah pilkada, ngutang, dan terpaksa mengorbankan keuangan klub, akhirnya pemain bintangnya kabur, prestasi tim hancur, dan degradasi ke Liga 2. Beruntung, kondisi klub masih bisa diselamatkan. Belum lagi, ada klub yang menunggak gaji pemain, masalah transparansi gaji pemain, hak siar, lalu operator Liga 1 masih berutang, PSSI terkontaminasi politik+konflik kepentingan, dan sebagainya. Semuanya bermuara pada transparansi yang hanya setengah-setengah. Sudah saatnya manajemen klub, operator Liga 1, dan juga PSSI belajar lah ke operator Liga Primer Inggris, klub-nya, dan juga FA (PSSI-nya Inggris)

7. Penegakan hukum 
- Liga Inggris disebut-sebut sebagai liga termahal di dunia, maka penegakan hukumnya pun tidak main-main dendanya, bahkan FA sangat detail mencari kesalahan pemain dan klub, terutama pemain bintang dan klub elite
Contoh:
a. Tendangan kungfu Cantona ke arah suporter diganjar hukuman dilarang bermain selama 9 bulan+denda Rp. 428 juta
b. Rio Ferdinand lupa menghadiri tes doping diganjar hukuman dilarang bermain selama 8 bulan+denda Rp. 713 juta
c. Roy Keane membuat pengakuan di autobiografinya bahwa dia sengaja mencederai seorang pemain lawan (Alf-Inge Halland) pada derby manchester diganjar hukuman denda Rp. 2 Miliar
d. Klub pun dibayang-bayangi sanksi financial player seperti yang dialami Chelsea awal 2019 akibat merekrut pemain di bawah umur. Sanksinya pun tidak main-main, dilarang beraktivitas dalam 2 jendela transfer & denda total Rp. 15,5 Miliar
(Sumber: bola.tempo.co dan bola.kompas.com)
- Bagaimana penegakan hukum di Liga 1 Indonesia? dendanya belum seberani Liga Primer Inggris😜 & berkaca pada tahun lalu, komisi disipilin PSSI cenderung tebang pilih, ada yang pelanggarannya berat hukumannya ringan, sebaliknya ada yang pelanggarannya ringan justru hukumannya berat. Tapi ada juga yang sesuai/adil walaupun belum menyentuh dalangnya, seperti:
a. Kasus pengaturan skor (sampai 4 kali) dilakukan oleh klub PS Mojokerto diganjar hukuman satu musim tidak boleh ikut kompetisi apapun
b. Kasus suap yang dilakukan anggota komite eksekutif PSSI Hidayat diganjar dilarang beraktivitas di dalam dunia sepak bola selama 3 tahun dan denda Rp. 150 juta
(Sumber: www.cnnindonesia.com)
Tapi tetap saja perlu ada perombakan komisi displin PSSI ke depannya, rekrut orang hukum berkualitas tapi netral, tidak punya kepentingan apapun, fokus bekerja, tidak menyambi, mengerti seputar hukum sepak bola di Indonesia dan dunia, mengusut akar masalah dari suatu kasus (ini masih kurang), serta belajar ke komisi disiplin FA Liga Primer Inggris.

Demikian artikel ini saya buat, memang Liga Primer Inggris masih menyimpan kelemahan, seperti dianggap terlalu mahal lah, jadwal Boxing Days yang tidak manusiawi, dan terlalu banyak pemain asingnya, tapi itu semua tertutupi dengan kelebihannya, sehingga pantas disebut sebagai Liga terbaik di dunia. Liga 1 Indonesia sudah sepatutnya melakukan ATM (Amati, Tiru, & Modifikasi) terhadap Liga Primer Inggris, tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan, agar menjadi liga terbaik, minimal di Asia Tenggara dulu. Kalu sudah begitu, prestasi timnas akan mengikuti.

Oh ya, mumpung masih suasana Lebaran, mohon maaf lahir batin ya, mohon maaf juga jika artikel blog ini masih banyak kekurangan (dengan senang hati saya nantikan masukannya untuk perbaikan blog ini)😇.
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ
Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:

Kamis, 18 April 2019

Harapan akan Inovasi yang Lebih dalam Pemilu di Indonesia

Pada dasarnya, pemilihan umum (pemilu) di Indonesia sudah mulai berinovasi (mengaplikasikan ide-ide baru ke publik). Salah satunya dengan hadirnya pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) serentak. Tujuannya antara lain untuk menghemat anggaran (walau tetap dirasa masih mahal) dan meningkatkan partisipasi warga setempat agar tidak jenuh akibat baru saja pemilu kok sudah pemilu lagi. Misal saat pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) baru saja memilih calon walikota eh beberapa bulan kemudian harus memilih lagi calon gubernur, itu kan tidak efektif, kenapa tidak dibarengkan saja. Atau pemilihan kepala daerah di hampir semua daerah di Jawa Barat sebelumnya berlangsung sendiri-sendiri dengan jadwal yang berbeda-beda, kini dibuat bersamaan jadwalnya.

Inovasi lainnya adalah hajatan yang lebih besar yaitu pada pemilu 2019. Pemilu tersebut untuk pertama kalinya dilakukan secara serentak karena  tidak hanya memilih calon presiden dan calon wakil presiden saja, tapi juga calon anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD. Intinya, menggabungkan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) dalam satu hari. Tapi, tetap saja biaya tinggi dan kecenderungannya naik dari tahun ke tahun. Dikutip dari tirto.id, anggaran pemerintah untuk pemilu 2019 adalah sekitar Rp. 24 triliun, jauh meningkat daripada pilpres 2014 Rp. 16 triliun. Apa tidak membebani keuangan negara, kan lebih baik digunakan untuk pos yang lebih mendesak. Belum lagi bagi caleg dgn modal hasil ngutang lalu kalah (kalau yg menang sih tenang bisa balik modal) rentan stres, depresi & jatuh sakit akibat menanggung malu dan harus membayar utang utk modal nyaleg😱. Tentunya ongkos mahal politik harus ditekan seminimal mungkin, salah satunya dengan inovasi.

Inovasi pemilu yang dilakukan oleh pihak yang berwenang (seperti pemilu serentak) dirasa masih kurang dan harus ditingkatkan lagi, sehingga ujungnya dapat menghemat anggaran, meningkatkan partisipasi warga, dan menguntungkan semua pihak. Tapi memang, untuk melakukan inovasi itu membutuhkan biaya yang mahal, tapi nantinya untuk bersifat jangka panjang diharapkan dapat menghemat anggaran dan mengurangi pemborosan lainnya. Lalu, bagaimana inovasi yg bisa diterapkan pada pemilu berikutnya?

1. Surat suara diganti dalam bentuk digital
Pemilih tetap diwajibkan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan membawa bukti yang diperlukan, namun mulai dari mendaftar sampai dengan memilih dilakukan secara digital (cukup klik) di bilik suara yang sudah dilengkapi perangkat komputer (atau minimal tablet jika khawatir listrik bermasalah/aliran listrik saat menggunakan perangkat komputer). Hal ini bisa menekan anggaran, mulai dari menghilangkan ketergantungan penggunaan kertas (berarti lebih ramah lingkungan), mengurangi daftar antrean, serta nantinya memudahkan kerja Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) saat perhitungan suara. Tidak perlu rekapitulasi perolehan suara secara manual, tapi cukup menggunakan e-rekapitulasi yang hemat waktu dan biaya. Tidak perlu penjagaan kotak suara, tapi cukup pengawasan terhadap keamanan dan kualitas perangkat IT-nya. Kendala terberat mungkin teknologi informasi (termasuk internet) belum menjangkau daerah-daerah terpencil. Mau tidak mau warga di daerah terpencil tsb harus diantar jemput ke daerah yang sudah dijangkau oleh teknologi informasi. Sejauh ini, baru Brazil dan India yg benar2 berhasil menerapkan e-voting, sehingga Indonesia bisa belajar & melakukan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

Agar teknologi pemungutan suara (e-voting) & rekapitulasi perolehan suara (e-rekapitulasi) bisa segera dilaksanakan di Indonesia, di samping anggaran yang perlu disiapkan, juga paling mendasar adalah Undang-Undang Pemilihan Umum Nomor 7 Tahun 2017 harus direvisi terlebih dahulu, karena masih menganut sistem manual.

e-voting. Sumber: wartakota.tribunnews.com

2. Mengakomodir pemilih difabel
Pemilu wajib mengakomodir pemilih difabel sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia. Mereka memiliki hak suara yang sama dengan pemilih pada umumnya. Surat suara yang digunakan tentunya adalah surat suara braille. Namun, pada pemilu 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) hanya bisa menyediakan surat suara braille untuk pilpres dan DPD mengingat keterbatasan anggaran. Sedangkan, surat suara braille untuk daftar caleg belum tersedia. Untuk mengatasinya, alangkah lebih baiknya jika dibuat versi digitalnya. Pemilih difabel dituntut untuk mempelajari teknologi yang sebenarnya lebih praktis daripada harus menggunakan kertas manual.

3. Tingkatkan TPS tematik
Di beberapa daerah,  Tempat Pemungutan Suara (TPS) tematik/berkonsep unik dinilai efektif meningkatkan partisipasi warga. Warga dibuat penasaran dengan TPS yang berbeda dari TPS pada umumnya. Bentuk promosinya cukup dari mulut ke mulut. Mereka yang sudah datang ke TPS tentunya akan dengan senang hati menceritakan pengalaman barunya kepada tetangganya yang belum mencoblos. Tetangga tersebut yang awalnya enggan mencoblos pun dibuat penasaran akhirnya datang ke TPS dan sekalian mencoblos😜. Kalau dalam manajemen, itu yang namanya first impression. Kesan pertama yang menggoda membuat orang yang tidak tertarik menjadi tertarik.

Contoh TPS tematik saat pemilu 2019:
a. TPS Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur bertema sawah dan dapur. Di TPS 193, petugas menggunakan pakaian ala petani (pakaian hitam dan topi caping). Sementara di TPS 194, petugas menggunakan pakaian koki serba pink (sumber: liputan6.com)

b. Sekitar 18 TPS di Depok bertema budaya dan menjemput warga menggunakan odong-odong. Petugasnya pun menggunakan atribut daerah (sumber: www.merdeka.com)

c. Kedai Kopi Abraham & Smith jadi TPS 02 dadakan di Jalan Tamblong Dalam, Kelurahan Kebon Pisang, Bandung. Bahkan, owner-nya juga menyediakan 500 gelas kopi dari berbagai jenis menu kopi plus batagor gratis untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar yg mencoblos di TPS 02 (sumber: nasional.repblika.co.id)
ke TPS Sambil Ngopi & Ngemil Batagor Gratis. Sumber: www. ayobandung.com
Saya pernah membaca, kalau anggaran pembuatan TPS tematik ini berasal dari swadaya masyarakat. Jika hanya mengandalkan anggaran pemerintah jelas tidak cukup, suatu langkah yg kreatif dan inovatif👍. Kalau dilihat segmennya, keberadaan TPS tematik tersebut menyasar kaum milenial. Ke depannya, alangkah lebih baiknya jika dalam setiap penyelenggaraan pemilu, keberadaan TPS tematik tersebut ditingkatkan dengan tema memperhatikan sesuatu yg sedang viral dan dikombinasikan dengan kearifan lokal. Misal: ada TPS yg menyediakan gim lokal virtual reality yang berkaitan dengan pemilu dan jg permainan tradisional, petugas berpakaian pahlawan nasional, dan sebagainya. Pokoknya bagaimana TPS dibuat pikabetaheun seperti halnya mal sekaligus mengedukasi juga.

Bagi KPU, alangkah lebih baiknya, jika keberadaan TPS tematik tsb lebih dihargai dan bahkan  dilombakan, pemenangnya mendapatkan hadiah yang menarik, di samping tentu saja fotonya di-posting di website/akun medsos KPU, dan diundang ke KPU+Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) misalnya.
 
4. Transparansi dalam pemilu
Selama ini kita selalu dibuat penasaran tentang proses rekapitulasi suara yang dilakukan KPU. Transparansi dalam pemilu melalui sarana teknologi informasi dinilai masih kurang, hanya mengandalkan berita dari media saja. Padahal, melalui teknologi informasi inilah transparansi dapat lebih terlihat dan juga sebagai sarana kontrol publik terhadap kinerja KPU. Langkah tsb harus dilakukan untuk mempersempit ruang gerak hacker jahat (cracker) yang berniat jahat meretas website KPU untuk kepentingan pribadi, bahkan bisa saja menambah perolehan suara secara ilegal😱. Lalu, perlu dijabarkan juga bagaimana kredibilitas lembaga-lembaga survei yang sering bermunculan saat pemilu, saya kira KPU juga berwenang untuk menjabarkannya, sehingga tidak membuat bingung publik. Justru, keberadaan lembaga-lembaga survei yang kredibel bisa memperkuat kinerja KPU. Sementara, untuk keberadaan lembaga survei yang abal-abal harus segera ditindak dan diproses menurut hukum yang berlaku dengan melibatkan aparat penegak hukum. Karena dengan membiarkannya, sama saja ikut mendiamkan penyebaran hoaks. Dengan transparansi yang jelas dan ketegasan yang bijak, KPU akan semakin kredibel dan terhindar dari kecurigaan para peserta pemilu (terutama yang kalah).

Sumber: Akun Ig @TanYoana

5. Admin akun medsos resmi KPU harus lebih responsif
Selama ini banyak netizen yang mengeluh jika admin KPU selalu rajin mem-posting foto/video/informasi tapi tidak pernah menanggapi komentar, pujian, saran, maupun keluhan netizen. Kalau tidak percaya, silakan cek akun instagram resmi KPU (@kpu_ri).

Hal tersebut memunculkan anggapan bahwa pekerjaan admin akun medsos KPU seperti robot saja, sekedar menunggu perintah atasan untuk mem-posting foto/video/informasi. Tentunya bentuk komunikasi searah tersebut kurang baik, mengingat kinerja KPU perlu diawasi melalui kontrol publik yang membutuhkan komunikasi 2 arah, di antaranya melalui akun medsos resmi. Admin yang baik tidak ubahnya seperti customer service yang dengan senang hati menanggapi komentar, pujian, saran, maupun keluhan pelanggannya dengan baik. Tapi, pada dasarnya bukan hanya admin akun medsos resmi KPU saja, melainkan juga seluruh sumber daya manusia terkait dengan pemilu juga harus berinovasi mengikuti perkembangan zaman.

Di-update tgl 21 April 2019:
6. Perlunya evaluasi & inovasi sistem kerja KPPS
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menyampaikan bahwa saat bertugas pada pemilu 2019, terdapat 14 orang anggota pengawas pemilu (trmsk KPPS) yg meninggal dunia, 85 orang dirawat inap di rumah sakit, 137 orang yang rawat jalan, 74 kecelakaan, & 15 orang mengalami tindak kekerasan (sumber: koran PR tgl 22 April 2019).  Data terakhir per tgl 22 April 2019 jam 15.00, langsung dari Ketua KPU, Arief Budiman, bahwa petugas yg meninggal dunia  (saat maupun setelah bertugas) meningkat drastis menjadi 91 orang & 374 sakit (sumber: liputan6.com). Ini menjadi rekor tersendiri (yang memprihatinkan) dibanding pemilu sebelumnya😱.

Mereka (korban yang meninggal dunia akibat bertugas mengawal pemilu) pantas menjadi pahlawan demokrasi & semoga mendapatkan husnul khatimah, serta yg sakit/luka-luka segera dipulihkan, sehingga dpt beraktivitas normal. Aamiin😇.

Namun, pada intinya bnyknya korban saat bertugas berawal dari kelelahan ditambah tekanan yang tinggi & durasi waktu kerja yang terbatas, sementara beban kerja bertambah karena mengurus pilpres & pileg secara bersamaan. Biasanya 1 surat suara, sekarang 5 surat suara. Otomatis, petugas tidak punya waktu untuk tidur yang menjadi hak setiap tubuh, sehingga tubuh rentan terkena penyakit, termasuk penyakit jantung. Dengan kondisi yang sudah lelah dan tidak bisa berkonsentrasi, kemungkinan untuk salah memasukkan data penting menjadi besar😱.

Kondisi tersebut memang tidak ideal & kurang manusiawi. Honor yang tidak seberapa (di bawah Rp. 600 ribu) tidak  sebanding dengan risiko kerja. Perlu evaluasi & inovasi sistem kerja KPPS (terutama saat menghadapi pemilu dengan skala nasional seperti pilpres yang digabung dengan pileg untuk pertama kalinya). Anggaran KPPS, jumlah petugas berikut honor, & durasi waktu  kerja (untuk jenis pekerjaan yg sama) wajib ditambah demi memanusiakan petugas KPPS. Petugas KPPS perlu dilindungi asuransi yg berkaitan dengan risiko pekerjaan & sistem keamanan yg memadai. Fasilitas untuk mendukung sistem kerja KPPS juga harus ditingkatkan, misal sistem teknologi informasinya, disediakan tempat kerja yang nyaman, fasilitas pijat refleksi dan tempat istirahat yang memadai, serta dokter yang standby tidak jauh dari lokasi kerja. Untuk perekrutan petugas KPPS ke depannya, faktor usia juga hrs diperhatikan. Rekrut petugas dgn usia muda, skill dan jam terbang yang mumpuni, kondisi badan yang fit, memiliki kemampuan untuk bekerja secara tim dan di bawah tekanan tinggi, serta memiliki jam terbang yang baik.

Mgkn, di zaman digital seperti saat ini, peran robot juga bisa dioptimalkan utk membantu kerja petugas. Ingat, tahun 2024 pemilu kemungkinan bakal lebih kompleks lagi dengan menyertakan 7 surat suara. Itu berarti tugas KPPS pun akan semakin berat ke depannya😱. KPU sebagai bos dari KPPS harus mulai memikirkan solusinya dari sekarang.

7. Perlunya evaluasi & inovasi sistem keamanan
Menurut data terbaru (22 April 2019) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), sebanyak 15 polisi gugur saat bertugas mengamankan pemilu 2019. Penyebabnya bermacam-macam, ada yang mengalami kecelakaan lalu lintas & sakit (sumber: detik.com). Di-update dari koran PR tgl 23 April 2019: tdk hny kepolisian yg berduka, tp jg organisasi Perlindungan Masyarakat (Linmas). Ada 2 petugas Linmas yang meninggal dunia, salah satunya diketahui mengalami perdarahan otak saat bertugas mengamankan pemilu 2019.

Melihat keprihatinan tersebut, lagi2 akar masalahnya sama dgn petugas KPPS, yaitu kelelahan. Mereka pantas menjadi pahlawan demokrasi & semoga korban yg gugur tsb mendapat husnul khotimah. Aamiin😇.

Perlu ada evaluasi & inovasi sistem keamanan, seperti seleksi khusus (terutama tes kesehatan) untuk polisi yang akan bertugas dalam mengamankan pemilu, adanya sistem shift yang lebih manusiawi, simulasi penguasaan medan jauh-jauh sebelumnya dengan melibatkan warga sekitar, selalu berkomunikasi & berkoordinasi dgn KPU, KPPS, & pihak terkait lainnya, reward yg lebih, dan sebagainya. Begitu pun bagi petugas Linmas, ada seleksi khusus juga, jumlah anggotanya wajib ditambah, reward yg lebih, ada sistem shift juga yang lebih manusiawi, dan sebagainya.

Sumber: https://me.me
Demikian artikel saya, memang inovasi pemilu dan biaya tinggi (saya belum dapat info rincian biayanya) selalu berkaitan erat, apalagi jika dihubungkan dengan inovasi teknologi. Namun, jika melihat target jangka panjang, justru hal tersebut harus dilakukan untuk menghemat anggaran dan memudahkan para pihak dalam bertindak, baik dari para peserta, pemilih, maupun KPU. Bagi peserta pemilu dan tim suksesnya, hal tersebut penting untuk memangkas biaya politik yang dianggap salah satu yang termahal di dunia (akibat jumlah penduduk yang bnyk & pulau-pulau yang tersebar di Indonesia). Mahalnya biaya politik bisa jadi penyebab utama suburnya Korupsi, Kolusi, & Nepotisme (KKN). Bagi para pemilih, tentunya inovasi tsb penting untuk meningkatkan partisipasi warga dalam pemilu dan mencegah golput (terutama dari kalangan milenial). Bagi KPU, inovasi penting untuk meningkatkan kredibilitas KPU di mata publik, meminimalisasi kecurangan, dan juga meningkatkan kinerja organisasi, tidak hanya untuk KPU, tapi juga anak buahnya seperti KPPS. Sementara bagi aparat keamanan, inovasi penting untuk menciptakan sistem keamanan yang lebih canggih tapi tetap manusiawi, terutama bagi petugas keamanan itu sendiri.

Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:
Blog 2: healthyhumanityvicagi.blogspot.com
Blog 3: listrikvic.blogspot.com

Jumat, 01 Maret 2019

Timnas Indonesia U-22 Juara, Kembali ke Liga Pemain Andalan jadi Cadangan?

Selamat buat tim nasional (timnas) sepak bola putra Indonesia U-22 yang berhasil meraih juara pertama Piala AFF U-22 tahun 2019 setelah mengalahkan Thailand U-22 dengan skor 2-1. Kemenangan tsb terasa lebih membanggakan karena diraih di luar kandang, yaitu di Kamboja, diitambah keprihatinan seperti konflik yg menimpa organisasi sepak bola tertinggi di Indonesia, PSSI, & kekuatan timnas kita yg sbnrnya berkurang akibat Saddil, Egy, dan Ezra tidak diizinkan klubnya (di luar negeri) utk memperkuat timnas. Mengapa tidak diizinkan? karena turnamen Piala AFF U-22 bukan merupakan turnamen resmi yang terdaftar di kalender federasi sepak bola tertinggi dunia, FIFA, tapi hanya buatan salah satu federasi cabang, federasi sepak bola tertinggi di Asia Tenggara/AFF (aneh kok federasi induk dan cabangnya ga kompak ya, jadi ga masuk perhitungan poin FIFA dong utk penentuan peringkat timnas🤔) #FIFAmahbebas.

Tim Garuda Muda sudah tidak lagi Jago Kandang. Sumber: goriau.com
Sudahlah, semoga saja performa timnas Indonesbia U-22 bisa terus meningkat dan konsisten ke depannya (jgn euforia akbt baru sj juara, dielu2kan bnyk orang, bertemu presiden, & dpt bonus besar). Ada tugas berat menanti, yaitu saatsaat mengha tantangan berikutnya, yaitu kualifikasi Piala Asia 2020 (nah kl yg ini diakui FIFA😜), SEA Games 2019 (blm ada info diakui FIFA atau tdk), & trkhr saat harus naik level ke senior. Tentunya dibutuhkan kerja keras dan cerdas, melibatkan para pemain, tim pelatih dan seluruh ofisial tim. Tapi, itu saja belum cukup, perlu dukungan penuh dari pemerintah, klub tempat para pemain bernaung, stakeholder (pemangku kepentingan) lainnya, & tidak kalah penting tentu saja suporter timnas Indonesia yang dikenal fanatik dan tanpa pamrih mendukung timnas Indonesia, bahkan ketika main di luar negeri sekalipun, sehingga menjadi semacam energi positif tersembunyi bagi timnas Indonesia👏🏻.

Ok, sebenarnya judul di atas tsb merupakan kekhawatiran saya dan juga seluruh penggemar sepak bola nasional, khususnya timnas, baik level junior maupun senior. Ada semacam lelucon yg ada benarnya juga, kenapa pemain di level timnas junior bisa tampil luar biasa, disebut2 "the rising star", tapi begitu ke level timnas senior dan kompetisi liga kasta tertinggi di Indonesia justru melempem, bahkan tidak sedikit yang menjadi penghuni bangku cadangan, lalu menghilang begitu saja, dan bahkan alih profesi, bukan akibat force majeure seperti cedera berat, tapi sudah jenuh saja performa menurun terus, emosi yang tidak terkendali, kalah bersaing (terutama dari pemain asing), terpengaruh gaya hidup yang salah+popularitas, terkontaminasi dari hal2 yg buruk dlm berkompetisi (misal permainan kasar lawan yg dibiarkan), & akhirnya menyerah. Ambil contoh, ke mana keberadaan striker muda berbakat Syamsir Alam dan Angga Febriyanto yang merupakan pemain kelas timnas junior? Menghilang begitu saja, baik di kompetisi liga maupun timnas level senior.

Nasib serupa juga hampir dialami striker andalan timnas Indonesia U-22 Marinus Wanewar. Attitude-nya yang cepat emosian membuat performanya naik turun. Apalagi di klubnya saat itu (2018) Bhayangkara FC, Marinus menjadi cadangan abadi setelah striker asing David da Silva dan striker naturalisasi Herman Dzumafo. Marinus pun hanya berperan sebagai super-sub, dan performanya lumayan walaupun tidak istimewa. Dari 18 penampilannya, Marinus mencetak 3 gol. Performa yang lumayan tsb sbnrnya berlanjut ke timnas Indonesia U-22, apalagi Ezra tidak diizinkan klubnya, shg mau ga mau Marinus menjadi pilihan utama. Di sinilah awal kebangkitan seorang Marinus. Asisten kepala delegasi timnas Indonesia U-22 yang juga anggota kepolisian, AKBP Sumardji yang ternyata manajer Marinus di Bhayangkara FC, memiliki peran penting bagi performa Marinus di Piala AFF U-22 tahun 2019. Marinus tampil tajam di turnamen singkat tsb dengan torehan 3 gol. Bahkan, ketika tidak mencetak gol, Marinus berperan penting sebagai pemantul bagi rekan2nya yang lain. Pendekatan yg dilakukan Sumardji lebih kepada pendekatan psikologis, bagaimana agar Marinus bermain dengan hati dan senyaman mungkin. "Setiap sebelum laga, selalu saya elus2, kamu harus punya hati, kamu harus bermain dengan hati, jangan marah, dsb. Ini ibarat bentuk perhatian orangtua ke anak" lanjut Sumardji (sumber: https://bolalob.com).

Ujian berat Marinus di timnas kmrn ya saat di final melawan Thailand, bertemu bek raksasa keturunan Italia yg bernama Marco Ballini. Marinus, yg bertinggi badan 180 cm (sdh tinggi ideal sbnrnya) dihadapkan dengan bek raksasa bertinggi badan 198 cm (lbh pantas jadi pebasket NBA😁). Bek tsb tdk hny kuat bertahan, tapi juga pintar memancing emosi lawan. Berkali2 Ballini memprovokasi Marinus, tp Marinus terlihat tidak terpancing emosi dan tersenyum ketika dizalimi (biasanya langsung membalas bak preman/petinju kelas berat hehe..). Permainan Marinus sendiri memang tidak terlalu berkembang, dikunci oleh Ballini, tapi Marinus berhasil menjadi tembok bagi rekan2nya. Sebuah kedewasaan yg luar biasa dari seorang Marinus yg skrg menjelma menjadi preman pensiun. Sekarang Marinus akan dikembalikan ke klub pemilik sesungguhnya, yaitu Persipura, klub tanah kelahirannya, Papua. Sedangkan, Bhayangkara FC hny peminjam saja. Semoga saja nantinya Marinus menjadi pemain inti di Persipura.
Marinus Sang Preman Pensiun😜. Sumber: youtube.com
Marinus boleh saja bangkit, lalu rekan setimnya di timnas Sani Rizki Fauzi jadi idola baru stlh gol penting penyama kedudukan di final, & membanggakan institusinya (kepolisian), serta Winger cepat Osvaldo Haay yg selalu dpt tempat di tim inti baik di timnas Indonesia U-22 maupun klubnya Persebaya. Tapi, sy lbh menyoroti bgmn dgn sebagian pemain di timnas Indonesia U-22 yg bermain reguler, tp saat kembali memperkuat klub di kompetisi kasta tertinggi Indonesia (Liga 1) dikhawatirkan hanya duduk bangku cadangan saja, bukan bagian dari pemain inti di klub tsb. Alasannya adalah:
  1. Kompetisi Liga 1 boleh diperkuat 4 pemain asing, 3 bebas, 1 harus Asia. Saya perhatikan, hampir semua klub Liga 1 umumnya menggunakan semua kuota pemain asing di posisi yg sama, yaitu 1 striker murni/target man, 1 attacking playmaker, 1 defender, sedangkan kuota Asia biasanya untuk 1 striker pelapis atau 1 deep-lying playmaker. Ketika semua kuota pemain asing terisi, maka kemungkinan pemain lokal berbakat (di keempat posisi tsb) bermain di tim inti semakin kecil. Blm lg persaingan dgn pemain lokal yg lbh senior. Melihat hal tsb, bnyk pihak yg mengkhawatirkan beberapa pemain andalan timnas Indonesia U-22 seperti playmaker Gian Zola, bek tengah Nur Hidayat & Bagas Adi, serta gelandang bertahan sekaligus bek kanan Asnawi Mangkualam akan menjadi cadangan abadi di klubnya masing2 yg merupakan klub elite Liga 1
  2. Ternyata itu belum cukup, ada banyak pemain naturalisasi (pemain asing yang jadi WNI) mengantre untuk memperkuat klub Liga 1 membuat pemain lokal  muda berbakat semakin berat persaingannya. Apalagi saat ini keran pemain naturalisasi masih dibuka, sehingga menjadi rebutan klub Liga 1 untuk merekrutnya. Untuk pemain naturalisasi kebanyakan di posisi striker & defender. Hrsnya pemain naturalisasi disetop dulu (mgkn demi kepentingan bisnis juga jadi diteruskan sampai skrg🤔), toh tdk terlalu berdampak signifikan bagi prestasi timnas. Eksistensi pemain asing dan naturalisasi tsb dianalogikan spt keberadaan tenaga kerja asing yang siap menguasai lahan milik Indonesia dan membuat orang pribumi tersisihkan di negeri sendiri...ironis memang
  3. Demi kepentingan bisnis (termasuk rating) dan memuaskan suporter yg haus kemenangan memang mengharuskan klub Liga 1 menggunakan pemain terbaiknya (trmsk pemain asing & naturalisasi) di setiap pertandingan kompetisi resmi, agak riskan memainkan pemain yg dianggap junior. Ada beberapa pelatih yg berani melakukan rotasi, tapi tetap saja, utk posisi tertentu dikuasai pemain asing dan naturalisasi

Lantas, bagaimana Solusinya? Mnrt saya ada beberapa alternatif:
  • Untuk menampung pemain Indonesia U-22 berbakat ini, baiknya PSSI bekerja sama dengan 1-2 klub Liga 1 untuk merekrut semua pemain lokal tanpa pemain asing dan juga tanpa pemain naturalisasi saat berkompetisi. Bahkan tim pelatihnya juga harus lokal. Nah, sebagai imbalannya, diberikanlah subsidi yang lebih besar dibanding kompetitornya, berikut bonus2 lainnya, trmsk bantuan sponsor misalnya. Saya yakin, tim2 medioker bnyk yg tertarik. Ujung2nya, membantu program timnas juga
  • Khusus timnas Indonesia U-22 sudah saja dikontrak PSSI menjadi suatu klub profesional, sehingga jika tidak membela negara, bisa bertanding di liga profesional yang kekurangan peserta, misal di Singapura. Tentunya harus menyesuaikan jadwal juga antara liga dan timnas
  • Kurangi kuota pemain asing (dari 4 menjadi 3) & setop menaturalisasi pemain
  • Kompetisi Liga 1 berjalan spt biasanya,  dgn dgn  jumlah kuota pemain asing yg sama spt sblmnya, namun pergantian pemain agar ditambah dari 3 menjadi 5 misalnya (diusulkan ke FIFA jauh2 hari sblmnya). Sbnrnya sdh dari dulu FIFA mewacanakan penambahan pergantian pemain lebih dari 3 pada pertandingan resmi, tapi hanya sebatas wacana saja sampai sekarang😜. Padahal, hal tsb penting agar memberi kesempatan lbh banyak bagi pemain lokal yg sering di duduk di bangku cadangan utk bermain dan mencegah kariernya mentok. Di samping itu, pelatih pun bisa lebih leluasa menyiapkan alternatif strategi. Konsekuensinya, injury time tinggal ditambah satu menit toh tdk terlalu mengganggu
  • Tingkatkan kualitas kompetisi (mulai dari perangkat pertandingan, pengadaan fasilitas, penegakan rule of the game and fair play, pembinaan pemain, pelatih, & ofisial tim yg hrs sejalan dgn standar kurikulum FIFA, serta ketertiban suporternya. Lalu transparansi, khususnya yg berkaitan dgn bisnis dan tentu saja pembenahan organisasi PSSI itu sendiri. Studi banding & transfer knowledge baiknya dilakukan scr konsisten
  • Sudah saja para pemain timnas Indonesia U-22 dikontrak oleh klub2 profesional di luar negeri spt halnya Egy yg bermain di Liga Polandia & Ezra di Liga Belanda, tapi harus ada kontrak tertulis bahwa pemain wajib dimainkan di tim inti selama mgkn dan juga kewajiban membela tim nasional sebagai bagian tugas negara, baik itu diakui FIFA maupun tidak. Tentunya harus diperhatikan jadwal bertandingnya, antara klub dan timnas harus selaras
  • Jgn euforia akbt baru saja juara, dielu2kan bnyk org, bertemu presiden, & dpt bonus besar. Hrs ada tim khusus utk mengatasi penyakit star syndrome & cepat puas
Demikianlah solusi dari saya sebagai penggemar sepak bola nasional, semoga saja timnas Indonesia (baik level junior maupun senior semakin berjaya dan berprestasi ke depannya), PSSI-nya pun semakin bersih, liga semakin profesional, dan tidak kalah pentingnya pemain timnas junior seperti pemain andalan timnas Indonesia U-22 saat dikembalikan ke klubnya menjadi pemain inti, bkn penghangat bangku cadangan. Jgn sampai mereka layu sblm berkembang. berkembang. Aamiin😇.

Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:
Blog 2: healthyhumanityvicagi.blogspot.com
Blog 3: listrikvic.blogspot.com

Minggu, 17 Februari 2019

Kisruh RUU Permusikan: Revisi atau Tolak?

Namanya saja masih Rancangan Undang-Undang (RUU), tentunya masih berupa konsep semata, draf, belum ditandatangani oleh presiden dan disetujui oleh DPR. Dalam keadaan demikian, publik masih bisa mengawasi dan memberi masukan. Nah, yang terjadi di RUU permusikan, ketika RUU yg diprakarsai Anang Hermansyah (seorang anggota komisi X DPR RI sekaligus musisi nasional) masih belum beres, tiba-tiba sudah bocor ke publik (seharusnya dibereskan terlebih dahulu dengan menggandeng berbagai stakeholder/pemangku kepentingan, terutama para musisi senior). Kalangan musisi pun bermacam-macam, ada yang dari background akademik dan non-akademik. Kedua kelompok tsb patut didengar aspirasinya. Jika salah satu saja diabaikan, jelas bisa menimbulkan kekrisuhan, lebih tepatnya perlawanan banyak pihak (lebih banyak daripada yang setuju). Komisi X DPR RI sendiri membidangi pendidikan, pemuda dan olahraga, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Permusikan juga termasuk bagian dari ekonomi kreatif.

Bagaimana kronologi kekisruhan tsb? Menurut Wendi Putranto (mantan jurnalis musik) yang ada di kubu penolak mengatakan bahwa Anang Hermansyah memang rajin memublikasi hasil kerjanya di Senayan lewat siaran pers, termasuk RUU Tata Kelola  Industri Musik, bukan RUU Permusikan. Namun nama RUU yg awal disebut sepertinya mentah dan kemudian secara tiba-tiba dicetuskanlah nama penggantinya oleh Anang yaitu menjadi RUU Permusikan yg ironinya  justru tidak dilampirkan dan dipublikasikan oleh Anang. Sebenarnya, musisi sempat diajak utk mengikuti rapat jejak pendapat umum dgn Komisi X untuk membahas RUU ini, tak pernah ada berita miring, & tiba-tiba saja keluar hasil sepihak spt yg viral spt saat ini (sumber: Koran Pikiran Rakyat 11 Februari 2019). Belum lagi, referensi yang diambil ada yang dari makalah siswa SMK sebuah blog (sumber: https://tirto.id). Jelas kurang bisa dipertanggungjawabkan untuk sebuah rumusan RUU.

Sdgkn mnrt Glenn Fredly, musisi nasional yang juga Ketua Komite Konferensi Musik Indonesia mengatakan bhw Konferensi Musik Indonesia menghasilkan 12 poin yg diserahkan ke presiden & DPR. Belakangan, Anang menyebut 12 poin tsb diadopsi utk kemudian menjadi draf RUU yg ramai tsb. Namun hal tsb trnyta tdk diketahui oleh Glenn. Bahkan Wendi menyatakan ada ketidaksesuaian antara 12 poin tsb dgn isi draf RUU tsb (sumber: Koran Pikiran Rakyat 11 Februari 2019). Intinya, pertemuan stakeholder sdh rutin dilakukan,  & sepakat dgn poin2 yg didiskusikan, namun, ketika sdh sampai ke eksekutif & legislatif hasilnya bisa berubah. Apa yg diucapkan blm tentu sesuai dgn hati, pikiran, & niatnya😝.

Pasal-Pasal RUU Permusikan yg menimbulkan kontroversi:
  • Pasal 5 
Disebutkan bahwa musisi dilarang mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum, membuat konten pornografi, memprovokasi pertentangan antarkelompok, menodai agama, membawa pengaruh negatif budaya asing, dan merendahkan harkat dan martabat manusia. Masalahnya batasan2 agar tidak melanggar isi pasal 5 RUU Permusikan sama sekali tidak dijelaskan. Hal itu membuat musisi was2 dalam berkarya dan khawatir sarana kebebasan berekspresinya dibatasi. Di samping itu, isi pasal 5 tsb bisa menimbulkan multitafsir dan perbedaan pendapat di antara para musisi (musisi yg sudah kompak malah bisa berselisih paham akibat berbeda pendapat). Belum lagi hukumannya ga main2, penjara dan denda. Musisi pun khawatir dikriminalisasi dan habis kariernya seketika gara2 satu pasal saja😱.
  • Pasal 18 
Disebutkan bahwa pertunjukan musik melibatkan promotor musik dan/ penyelenggara acara musik yang memiliki lisensi dan izin usaha pertunjukan musik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, baik pertunjukan musik kelas teri maupun kakap dianggap sama saja, harus punya lisensi dan izin usaha pertunjukan musik. Ambil contoh saja izin keramaian, itu hanya untuk konser musik dengan massa minimal 300 orang, sementara yang kurang dari itu tidak perlu. Sementara pasal 18 seolah menyamaratakan semua jenis konser, mau yang di kafe, independen, mall, maupun di lapangan terbuka, semuanya harus mengurus izin keramaian ke pihak kepolisian setempat. Ada semacam ketidaksesuaian antara isi pasal tsb dengan SOP (Standar Operating Procedure) yang biasa dilaksanakan kepolisian juga di sini, seperti kurang dilibatkan pihak kepolisian dlm menyusun RUU ini, jalan sendiri2 saja). Padahal kepolisian bisa disebut salah satu pemangku kepentingan juga. Di samping itu, pasal 18 tsb bisa mematikan karir musisi kecil seperti jalur independen, mengingat isi pasal ini hanya melindungi lebel rekaman maupun EO kelas kakap. Dalam hal ini pasal tsb cenderung menjadi produk sistem kapitalisme.
  • Pasal 19
Disebutkan bahwa promotor/penyelenggara musik yang menampilkan pelaku musik dari luar negeri wajib mengikutsertakan pelaku musik Indonesia sebagai pendamping, di mana pendamping tsb dipilih sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Mungkin tujuannya baik agar pendamping tsb semakin terekspos di mata dunia. Masalahnya apakah pelaku musik dari luar negeri tsb mau dikondisikan spt itu? Biasanya mereka punya konsep sendiri soal konser mereka. Jangan sampai malah membuat malas mereka datang ke Indonesia.

Inilah Pasal2 yg Menimbulkan Kontroversi. Klik Gambar agar lebih Jelas Tulisannya
  • Pasal 32
Disebutkan bahwa untuk diakui sebagai profesi, pelaku musik yang berasal dari jalur pendidikan atau autodidak harus mengikuti uji kompetensi. Hal ini menambah beban (ya waktu, biaya, dan tenaga) bagi musisi karena harus ada sertifikat tertentu supaya sah disebut musisi profesional Indonesia. Tidak jauh beda dengan lulusan Sarjana Hukum yang ingin menjadi pengacara maupun notaris harus mengikuti pendidikan tertentu agar lulus uji kompetensi dan mendapatkan sertifikat profesi. Kasihan bagi musisi kecil yang hidup dari jalanan misalnya...
  • Pasal 42
Pelaku usaha di bidang perhotelan, restoran, atau tempat hiburan lainnya wajib memainkan musik tradisional di tempat usahanya. Masalahnya adalah apakah pantas memainkan musik tradisional di tempat hiburan tsb? Bagaimana segmentasinya? Jika memang bisa dikolaborasikan dengan musik modern, apa bisa matching? Tentunya ga semudah itu.
  • Pasal 50
Mengatur hukuman penjara dan denda bagi yang melanggar pasal 5. Jelas ada kekhawatiran bagi musisi untuk berkarya sebaik mungkin, takut pula dikriminalisasi, dan habis seketika karirnya akibat keberadaan pasal yang memang menimbulkan multitafsir dan batasannya tidak jelas.
Sebenarnya masih banyak pasal yang menimbulkan kontroversi, namun yang paling viral ya 6 pasal di atas.
Draf RUU Permusikan & Banyak Pasal yang Dianggap Bermasalah. Klik Gambar agar lebih Jelas Tulisannya. Sumber: Koran Pikiran Rakyat 11 Februari 2019

Menurut Indra Prawira, dosen Hukum Tata Negara Unpad, jika RUU Permusikan disahkan, maka Indonesia akan menjadi negara pertama yang mengatur industri musik secara keseluruhan (biasanya yang diatur hanya sebatas hak cipta dan ekonomi saja). Beliau sendiri menolak RUU tsb mengingat hak cipta dan ekonomi sudah ada undang-undangnya, yaitu UU Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014. Jadi, menghindari kesan tumpang tindih. Menurutnya, kasus tsb pernah dialami di era Soekarno, di mana  Koes Plus pernah dipenjara akibat bermain musik dan bergaya kebarat2an dan bertentangan dengan budaya bangsa.

Sedangkan pihak yang mendukung disahkannya RUU Permusikan seperti Dose Hudaya (produser musik) menyatakan bahwa kehadiran UU Permusikan diperlukan, terutama di era industri musik digital yang masih lemah pengawasannya. Namun, banyaknya isi pasal2 yang menimbulkan kontroversi tetap harus direvisi secara besar-besaran.

Saya sendiri sbg penikmat musik & org hukum jg berpendapat bahwa RUU Permusikan harus ditolak, alasannya:
1. Isi pasal yang cacat hukum sudah terlalu banyak dan memecah belah musisi yang sudah damai, sehingga agak rumit jika harus direvisi secara besar2an
2. Tidak mengakomodir seluruh stakeholder, mungkin hanya kelompok tertentu saja yang diuntungkan, bisa jadi kelompok yang modalnya besar dan punya power
3. Kasihan bagi musisi yg bnr2 berkarir dari bawah (spt musisi indie), bisa terhambat kariernya akibat munculnya birokrasi yg ribet & mahal
4. Kesannya negara menjadi otoriter untuk mengekang kebebasan bermusik
5. Pasal tentang hak cipta yang tumpang tindih dengan UU Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 (pemborosan saja). Harusnya fokus dulu ke UU Hak Cipta (direvisi) mengingat banyak musisi yang belum puas dengan pengaturan hak cipta saat ini
6. Salah mencari referensi menurunkan reputasi dan kualitas RUU Permusikan (masa mengambil dari makalah siswa SMK??)
7. Jadwal perumusan RUU Permusikan kok berdekatan dgn Pilpres 2019 ya? Kan itu bisa menimbulkan kegaduhan baru
Sampai sekarang (terhitung tanggal 17 Februari 2019), pro dan kontra RUU Permusikan masih berlanjut di mana pihak yang menolak semakin banyak daripada yang mendukung (tapi revisi). Kita tunggu saja...kalau aku sih no, ga tau kalau mas Anang😁.

Saya sebagai Penikmat Musik & Org Hukum jg Berharap bahwa Aturan Dibuat untuk Mempersatukan Semua Aspirasi Stakeholder. Musik itu Bersifat Mempersatukan, bkn Memecah Belah. Kalau ga Bisa spt Itu, Mending ga usah Ada Aturan, krn bisa Merusak Esensi Musik itu Sendiri
Terakhir, artikel ini ditutup dengan quote permusikan: "musik tidak bisa menggunakan logika politisi dan birokrasi, tapi harus mengedepankan logika kultural dan musikal. Musik bukan hanya menghibur, tapi juga merespons situasi sosial politik budaya di masyarakat" (Budi Dalton, Budayawan & Dosen Unpas). Jadi, jika musik dijadikan mainan politik, hilang sudah esensi musik itu sendiri...

Silakan mampir juga ke blog saya yg kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:
Blog 2: healthyhumanityvicagi.blogspot.com
Blog 3: listrikvic.blogspot.com

Senin, 04 Februari 2019

Sejarah dan Inovasi Gim yang Eksis di Indonesia

Gim/permainan virtual (jenis gim simulasi yang menggunakan listrik dan peralatan elektronik) serta gim daring/online game (jenis gim yang menggunakan listrik, internet, dan peralatan elektronik) kini semakin diminati oleh generasi milenial (kelahiran 1981-1994). Bahkan, generasi sesudahnya, yaitu Z (kelahiran 1995-2014) dan alfa (kelahiran 2015 sampai sekarang), diprediksi akn smkn menggandrungi gim virtual dan gim digital online, mengingat mereka semakin melek dan mungkin "kecanduan" teknologi. Keberadaan gim tersebut dikhawatirkan menggeser keberadaan gim tradisional (jenis gim yg tdk perlu listrik, internet, dan peralatan elektronik) seperti main congklak, balap karung, layangan, tarik tambang, ucing sumput, atau yang sedikit modern seperti menyusun lego, monopoli, ular tangga, dan sebagainya, yang disukai generasi sebelumnya yaitu generasi X (kelahiran 1961-1980). Generasi X bisa dikatakan merupakan orangtua dari generasi milenial dan generasi alfa merupakan anak dari generasi milenial.

A. Gim tradisional
Menurut M. Zaini Alif, pendiri komunitas Hong (suatu komunitas yang berkonsentrasi untuk mendata permainan di Indonesia, khususnya permainan tradisional), gim tradisional di Indonesia tercatat dalam naskah kuno saweka darma Sanghyang Siksa Kandang Karesian pada abad ke-15. Gim yg ada saat itu dikuasai oleh seorang ahli yang dinamakan Hempul. Jadi, gim saat itu menjadi hal yang penting, bermanfaat, dan didukung pemerintah setempat shg perlu seorang ahli utk mengelolanya (sumber: Ahmad Nanda, Redaktur Pikiran Rakyat).

Gim tradisional jelas menekankan unsur sosialisasi di dunia nyata, ada interaksi face to face, silaturahim, kerja tim, mempelajari alam, dan nilai2 kehidupan yg jelas di situ. Gim tradisional juga berkaitan dgn sejarah dan budaya org Indonesia zaman dulu, sehingga bermain sambil belajar sejarah juga. Itulah kenapa, agar gim tradisional tidak punah, jg sambil mengingat sejarah permainan dan budaya org2 Indonesia zaman dulu, maka hal2 tsb perlu dimunculkan kembali, setidaknya sekali setahun saat merayakan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Tapi, msh ada gim/permainan tradisional Indonesia yg msh digemari sampai skrg, spt main layangan. Tp, kini dianggap cukup berisiko, mengingat ruang utk bermain layangan smkn terbatas dan sdh berubah fungsi menjadi pemukiman penduduk, jalan, gedung, dsb. Main layangan di ruang yg terbatas bisa membahayakan, spt layangan tersangkut di listrik bertegangan tinggi, mengejar layangan sampai ke jalan raya berpotensi ditabrak kendaraan yg melintas, atau gelasan layangan yg membentang tdk terlihat krn sngt tipis tp tajam n bisa mencelakaan pengendara motor yg lewat (nyangkut di leher atau gir sepeda motor). Ya, mirip2 main sepak bola, lihat sj anak2 skrg mau main spk bola bingung dimn, ruang terbuka terbatas. Ada sih tempat yg representatif, spt lapangan yg disewakan spt lapangan futsal, tp itu kan bayar mahal, sdgkn dulu anak2 bisa bergembira bermain spk bola tanpa dipungut biaya. Serba salah memang...
M. Zaini Alif menyebutkan bahwa ada sekitar 2600 permainan tradisional Indonesia yang berhasil didata sejak 2005. Sebanyak 360 merupakan permainan tradisional dari Jawa Barat, terdiri dari 2 jenis: kakawihan (nyanyian) dan kaulinan (permainan). Data tersebut kemungkinan masih bisa bertambah, akan tetapi dari 2600 permainan tradisional Indonesia, hanya 20-30% permainan yang masih dikenal masyarakat. Sisanya PUNAH😱 (sumber: Koran Pikiran Rakyat 27 Januari 2019).

Salah Satu Gim/Permainan Tradisional Indonesia yg Msh Digemari Sampai Sekarang: Layangan. .Sumber: bangkatimes.com

B. Gim modern
Unsur2 dlm gim/permainan tradisional hilang begitu muncul konsol gim/permainan (game console), baik yg bersifat individu maupun online. Ironinya, bnyk permainan tradisional yg asli Indonesia tsb mlh dibuat versi gimnya yg tentu saja msh impor pada saat itu, shg anak2 tentu lbh tertarik dgn permainan versi gimnya dan meninggalkan permainan tradisional. Misal: gim layangan. Di samping itu, misal gim monopoli yg menitikberatkan interaksi nyata jg dibuat versi gimnya. Lalu apa itu konsol gim/permainan? Dilihat kata dasarnya, konsol, merupakan balok yang satu ujungnya terpasang pada suatu penopang tetap dan ujung lainnya bebas (sumber: kbbi). Jadi, konsol gim/permainan berarti jenis gim/permainan yg berbentuk balok hehe.. Jelas bkn itu mksdnya. Jadi, konsol gim/permainan merupakan sebuah mesin elektronik yang dirancang khusus untuk memainkan permainan video. Perangkat penampil grafiknya dapat berupa monitor komputer atau televisi, alat pengendalinya disebut joystick atau controller (sumber : wikipedia). Konsol gim tsb muncul bersamaan dgn lahirnya generasi milenial. Di tahun 80-an ada konsol asal perusahaan Jepang seperti Atari, Nintendo, Sega, Super Nintendo, Ding Dong, dan Game Watch (biasa dikenal gimbot). Baik Atari, Nintendo, Super Nintendo, Sega Genesis, Sega Saturn, dan Super Nintendo hrs terkoneksi dgn televisi (yg terpisah), kaset khusus berharga mahal per bijinya (terpisah jg), dan listrik spy bisa dioperasikan. Sdgkn, Game Watch tdk perlu televisi dan listrik, cukup menggunakan baterai serta mudah dibawa. Mnrt saya, krn kepraktisannya dan mudah dibawa, Game Watch ini bisa dikatakan inspirator dan cikal bakal munculnya konsol gim portabel yg lbh canggih n jg ringan. Stlh Game Watch, muncul Tamagotchi yg jauh lbh kecil dan spesifik bertema hewan peliharaan tanpa mengurangi grafisnya, lalu Game Boy Advance (Game Watch buatan Nintendo dengan versi yg lbh modern) dan yg terkini muncul PS Portable, Nintendo DS, serta gim mobile/smartphone dgn grafis yg jauh lbh baik dan berwarna.
Game Watch (Gimbot) Thn 80-an, Sampai Ada PKL Sewa Gimbot Di Sekolah2, Gimbotnya diberi Tali Pengaman Agr Tdk Dicuri dan Penanda Waktu Sewa Sdh Habis, dgn Cara Tali Ditarik hehe.. Sumber: oketecno.com
Lalu, ding dong (gim menggunakan mesin besar berikut layar, tombol, n koin yg hny ada di tempat-tempat tertentu) begitu marak pd thn 90-an. Di situ ada interaksi nyata, walaupun main sendirian, setidaknya hrs pergi mendatangi tempat permainan tersebut dan membeli koin dan bertemu kasir hehe.. Tp biasanya itu jarang, kebanyakan sih pergi berkelompok dgn teman sepermainan, beli koin untuk main ding dong secara patungan, dan di situ permainan akan lebih seru dan menantang, bisa bermain bergantian, sementara yang belum kebagian biasanya jadi suporter.
Ding Dong, Sering Disebut jg\uga Permainan Ketangkasan, krn Membutuhkan Ketangkasan dan Kemahiran Kedua Tangan dlm Menekan Tombol yg Tepat utk Mengalahkan Lawan/Menyelesaikan Misi. Sumber: wowkeren.com
  •  Perang konsol gim non-portabel di Indonesia: Sony vs Sega vs Nintendo vs Microsoft 
Stlh era ding dong lewat, muncul konsol gim rumahan yg tdk menggunakan kaset, melainkan CD (compact disc). Konsol gim tsb asal Jepang dengan merek Sony PlayStation 1 (PS1), pny grafis yg jauh lbh baik dari sblmnya (konsol yg menggunakan kaset) walau pny kelemahan di optik yg cepat rusak. Konsol tsb muncul pd thn 1995 dan lgsg booming di masanya. Bisa dikatakan, konsol gim Sony PlayStation inilah yg menjadi cikal bakal munculnya konsol gim brktnya dgn grafis yg lbh sempurna, menggunakan compact disc yg lbh canggih, dan bisa bermain online (berbarengan dgn boomingnya internet), spt generasi PS2 yg mulai menggunakan DVD (Digital Versatile Disc) (muncul thn 2000 n booming jg spt sang kakak), PS3 menggunakan BluRay Disc (muncul thn 2006, tp tdk seheboh konsol sang kakak krn dianggap terlalu mahal BluRay disc-nya per biji bisa stgh

Sang kompetitor Sony, yaitu Sega yg jg asal Jepang, tdk mau kalah. Melihat kehebohan Sony PS1, maka Sega Dreamcast dihadirkan thn 1999, sama2 menggunakan CD, harga yg bersaing, bhkn diklaim pny desain yg lbh kreatif, grafis yg lbh baik, dan menjadi konsol pertama yg menggunakan internet. Tp sayang, konsol tsb gagal di pasaran, khususnya di Indonesia, krn boomingnya Sony PS2 yg muncul setahun kemudian. Kl mnrt sy, mgkn jenis gim di Sega Dreamcast terbatas, tdk sevariatif Sony. Mgkn produk Sega sblmnya yaitu Sega Genesis dan Saturn dinilai yg paling bersaing di masanya, dgn melawan kehebatan Super Nintendo.

Nintendo pun ga mau kalah. Thn 90-an, Nintendo adalah raja konsol gim, terutama dgn kemunculan Nintendo dan Super Nintendo. Tp, hal tsb berubah saat boomingnya Sony PS1 dan PS2. Nah, Nintendo Game Cube dihadirkan thn 2000-an utk mengatasi gempuran kehebohan Sony PS2. Grafis yg bagus dan desainnya yg unik sendiri berupa kubus seperti benda luar angkasa sptnya tdk menjamin produk tsb laku. Apa penyebabnya? Promosi yg krg dan stigma yg salah seolah2 Nintendo Game Cube adalah konsol gim khusus anak2. Pdhl gimnya sendiri variatif, bisa utk keluarga. Tp, kehadiran sang penerusnya, Nintendo Wii muncul thn 2005 menjadi penyegar di tengah kebingungan Nintendo menghadapi kompetitor. Nintendo Wii menjadi konsol gim yg fenomenal krn menggunakan remote khusus utk bergerak spt aslinya shg spt olahraga saja. Jadi, inovasi utamanya adalah joystick yg merespon thd letaknya dlm ruang fisik 3D yg terletak di dpn televisi yg dinamakan wiimote (sumber: wikipedia). Kekuatan utamanya adalah wiimote itu sendiri, shg kekuatan grafis bkn menjadi prioritas. Mnrt sy Nintendo Wii sangat cocok dimainkan oleh keluarga (ayah, ibu, dan anak), karena unsur kebersamaan dan olahraganya sangat kuat. Nintendo Wii dianggap cukup berhasil di pasaran walaupun tdk dpt menyalip penjualan PS2. Trkhr, Nintendo Switch muncul utk menyaingi PS4. Tp, lagi2, Nintendo Switch dgn teknologi hybrid dianggap bukan pilihan pertama bagi konsumen Indonesia.

Satu lagi, kompetitor konsol gim asal Amerika Serikat yg bernama Microsoft, yg selama ini dikenal menjadi raja gim di PC (Personal Computer) maupun laptop, mencoba menghadirkan konsol gim pada diri  Xbox utk mengalahkan sang raja konsol gim PS2. Xbox muncul thn 2001. Layanan Xbox live memungkinkan gim dimainkan secara daring (sumber: wikipedia). Kehadiran Xbox bisa membayang-bayangi PS2, tp tetap tdk bisa mengalahkan. Lalu, Microsoft mencoba inovasi baru dgn menghadirkan Xbox 360 utk mengimbangi PS3. Tp, penjualannya tetap di bawah PS3. Lalu, penerusnya Xbox One yg dianggap sbg kompetitor utama PS4, keduanya muncul hampir bersamaan thn 2013. Tp, sayang, harga lbh mahal dari PS4, shg penjualannnya malah di bawah PS4. Kesulitan Microsoft merajai konsol gim mnrt sy adalah cenderung melakukan imitasi dari gim unggulan Microsoft khusus PC dan laptop, sehingga tdk ada variasi baru alias sama saja dgn gim PC dan laptop.

Klik Gambar agr lbh Jelas Tulisannya. Sumber: www.obengplus.com
  • Perang konsol gim portabel di Indonesia: Sony vs Nintendo 
Konsol gim portabel sudah pasti mudah dibawa, bentuknya kecil (bisa disimpan di saku), main gim sudah termasuk layar dan joy stick. Jadi, seperti membawa smartphone saja, tapi dengan ukuran yang sedikit lebih besar, baterai yg lebih awet, grafis permainan yg lebih mantap, serta joy stick yg lebih ok tentunya daripada gim mobile/smartphone. Konsol gim portabel cocok untuk mereka yang sering bepergian jauh menggunakan berbagai transportasi sambil mengisi waktu luang bermain gim saat di perjalanan tapi tetap tidak mengganggu kinerja smartphone yang digunakan mengingat besarnya memori yang digunakan serta bikin boros baterai kalau dipaksakan digunakan di smartphone. Berikut konsol gim portabel yang laris di Indonesia:

1. Sony PlayStation Portable (PSP)
Dirilis 2004 di Jepang dan baru booming di Indonesia 2005, PSP merupakan pionir konsol gim portabel pertama yang menggunakan Universal Media Disc (UMD) sebagai media penyimpanan. menurut saya ini penerus Game Watch dengan versi yang lebih canggih. PSP memiliki grafis setara konsol PS2 tapi versi mininya. Keunggulan PSP adalah ukuran layar yang besar, resolusi layar dan spesifikasi hardware tinggi, memory 16 GB, Wi-Fi, konektivitas TV-out, desain elegan, serta jenis gim seperti di konsol. Tapi, kelemahannya tidak ada fitur touchscreen dan gim tidak sebayak Nintendo DS

PSP mengalami modifikasi dengan memunculkan PSP Go dengan kualitas grafis, desain, joy stick yg lebih baik, serta menyasar kelas premium. Faktanya PS Go dianggap terlalu mahal bagi konsumen Indonesia sehingga tidak seheboh produk sebelumnya.
Seri PSP yg Paling Premium: PSP Go. Sumber: ebay.com
Produksi PSP secara keseluruhan dihentikan pada tahun akibat kalah bersaing dari Nintendo DS. Untuk mengantisipasinya, Sony akhirnya merilis Sony PS Vita.

2. Nintendo DS (Dual Screen)
Nintendo DS yang merupakan suksesor Game Boy (sejenis Game Watch juga keluaran Nintendo) dirilis pada tahun 2004 untuk menyaingi kehebatan PSP, nyatanya malah menghancurkan sang kompetitor. Jika konsol gim non-portabel dikuasai Sony, maka bisa dikatakan juara sesungguhnya konsol gim portabel ya Nintendo DS. Apa sih kelebihannya dibanding PSP? Jenis gim lebih banyak dari PSP (walau secara grafis di bawah PSP), fitur touchscreen (gim jadi lebih interaktif), dan harga lbh terjangkau. Sisanya sih mirip2. Tapi kelemahannya adalah spesifikasi hardware rendah, resolusi layar lebih kecil, desainnya lebih sederhana, dan tidak ada konektivitas TV-out. Bisa dikatakan Nintendo DS versi minimalis dari PSP.
Nintendo DS Lite. Sumber: gamestop.com

3. PlayStation (PS) Vita
Dirilis tahun 2011, bisa dikatakan suksesor dari Sony PSP. Kritikan thd PSP yg hanya menggunakan 1 stik analog langsung disempurnakan pada PS Vita dengan menyediakan 2 stik analog. Begitu pun desainnya lebih kekinian. Layar yang digunakan lebih besar, yaitu 5 inci. Bandingkan dgn PSP dgn ukuran 4,3 inci (sbnrnya sdh cukup besar). Desainnya pun lbh elegan. Dan, ini kunci utk menandingi Nintendo DS, yaitu touchscreen. Jika PSP dianalogikan PS2 versi portabel, maka PS Vita PS3 versi portabel.

Kehebatan PS Vita ternyata tidak sesukses pendahulunya PSP, bukan akibat harga yang mahal atau kalah bersaing dari Nintendo DS, tapi akibat kemunculan kompetitor lain seperti smartphone dengan gim mobile. Konsumen Indonesia tentunya lebih memprioritaskan membeli smartphone daripada konsol portabel.

Sumber: id.technesia.com
4. Nintendo Switch
Dirilis tahun 2017. Kelebihan Nintendo Switch adalah joy stick yang bisa dibongkar pasang dengan nama joy con. Joy con  bisa berupa controller pada umumnya maupun remote dengan sensor yang mengharuskan pemainnya bergerak seperti di Nintendo Wii. Nintendo Switch bisa dikatakan PS4 versi portabel. Kabar baiknya, pihak Nintendo akan membuat inovasi Nintendo Switch di 2019 dengan seri Nintendo Switch 2.0.

Kelemahan Nintendo Switch adalah jumlah gimnya yang terbatas dan kurang bervariasi. Lalu, jika rusak, semua data gim yang tersimpan akan hilang, mengingat tidak ada memory khusus untuk itu (sumber: blog.ciayo.com).
Nintendo Switch Versi Terbaru, Dirilis 2019. Penasaran Apakah Bakal Laris di Indonesia? Sumber: youtube.com

     
  • Modifikasi gim tradisional menjadi gim modern
Ada beragam cara untuk menyelamatkan permainan tradisional dari kondisi kepunahan, salah satunya gim tradisional tsb dibuat versi modern melalui gim berbasis aplikasi. Sayangnya banyak gim2 lokal tsb justru punah sebelum waktunya. Misal apllikasi gim balap arung yang dikembangkan HiClay Studio dari Makassar, terakhir tanggal 16 Oktober 2016 hilang dari Play Store dan Apps Store. Padahal gim ini disukai masyarakat. Kenapa bisa demikian? mungkin inovasi yg mereka buat kurang didukung oleh pemerintah dan cenderung jalan sendiri (kurang sponsor dan bimbingan dari mentor berpengalaman juga). Padahal inovasi tentunya membutuhkan biaya tinggi, apalagi untuk perusahaan baru.
Tapi, masih ada kok gim2 lokal bertema tradisional berbasis aplikasi yang masih eksis sampai sekarang dan ditemukan di Play Store seperti gim congklak (dengan nama Congkak, Dakon, atau Mancala) dan gim bekel (buatan Erfinder Studio).

  • Smartphone gaming 
gim online di smartphone/mobile game yg smkn digemari krn simpel, praktis, bnyk unduhan gratis, n tdk perlu bnyk perangkat, cukup di smartphone. Grafisnya juga lumayan, namun tetap menyimpan kelemahan seperti daya tahan smartphone menurun, baterai cepat panas dan boros, memori RAM (Random Access Memory) semakin kecil akibat satu aplikasi gim saja memakan banyak ruang yang besar, sering nge-hang, dsb. Solusinya ya smartphone yang dimiliki harus memiliki spesifikasi untuk aplikasi gim dengan kapasitas memory di atas rata2 sekitar 8 G (Gigabyte) dari yang standar berkisar 2-4 G. Belum lagi kapasitas baterainya.harus yang 4000 mAH (miliampere per hour) dibanding standarnya yang 3000 mAH.

Smartphone gaming  di Indonesia tidak akan booming jika sebelumnya tidak ada ponsel gaming jadul yang melegenda seperti Nokia N-Gage tahun 2003 dan Sony Ericsson Xperia Play tahun 2010 (sumber: www.idntimes.com). Namun tahun 2005 produksi Nokia N-Gage akibat kalah bersaing dan tergeser oleh kompetitornya Game Boy Advance yang merupakan game watch murni tanpa embel2 ponsel. Ketika ponsel gaming meredup, Ericsson Xperia Play hadir pada tahun 2010 dan memunculkan fitur baru, bukan sekedar ponsel gaming semata, tapi juga menggabungkan dengan perangkat konsol gim (bisa dikatakan produk ini pionir kemunculan smartphone gaming modern). Setelah produk ini sukses di pasaran, maka muncullah berbagai merek smartphone gaming dengan berbagai fitur2nya.

Karakter konsumen Indonesia yang ingin membeli smartphone tapi juga maniak gim adalah menginginkan smartphone berkualitas, bisa main gim (memori-nya bisa diandalkan), baterai awet, dan dengan harga terjangkau, kisaran Rp. 1-3 jutaan. Kalau gim kekinian standar di smartphone (mobile game) seperti Mobile Legends & Arena of Valor saja tidak bisa disimpan di smartphone Gaming anda, maka performa smartphone tsb patut dipertanyakan.
 
Langsung to the point saja, smartphone gaming berkualitas, terjangkau, dan cocok untuk konsumen Indonesia pada umumnya, segmen kelas menengah (kisaran Rp. 1-3 jutaan) meliputi:
- Kisaran Rp. 1 jutaan: Xiaomi Redmi S2 dan Realme C1
- Kisaran Rp. 2 jutaan: ASUS Zenfone Max Pro seri M1 & M2, Xiaomi Redmi Note, dan Realme 2 Pro
- Kisaran Rp. 3 jutaan: Vivo V9 6GB, Huawei Nova 3i (Fitur AI Gaming), Honor 8X, dan Xiaomi Mi 8 Lite
Semakin mahal smartphone gaming tentunya semakin lengkap fiturnya, semakin besar RAM, memori internalnya, dan kapasitas baterai, semakin elegan desainnya, dsb

  •  PC gaming
Sejarah PC (Personal Computer) gaming paling pertama dibuat pada tahun 1961 dengan nama gim Space War dan jenis komputernya bernama PDP-1. Komputer tsb sangat mahal (sekitar Rp. 12 M) dan memakan ruang yang banyak, sehingga hanya dimiliki oleh instansi pemerintah dan universitas. Tapi, PC gaming yang pertama sukses di pasaran adalah gim edukasi Oregon Trail pada tahun 1971 (sumber: timxnl.com). Bisa digatakan gim edukasi tsb menjadi pionir munculnya PC gaming yang lebih modern.

PC disebut juga desktop (komputer meja) ada yang didesain khusus untuk gaming dan digemari oleh gamer Indonesia, seperti MSI Infinite S buatan tahun 2017 (Rp. 9-11 jutaan tergantung varian spesifikasinya) dan HP Omen Obelisk buatan tahun 2018 (ini agak mahal sekitar Rp. 31 juta). Itu belum seberapa, ada yang dijual di kisaran Rp. 70 juta seperti merek Corsair One Pro i180 buatan tahun 2019, tentunya sangat tidak ramah bagi kantong kebanyakan konsumen Indonesia😜 (sumber: www.idntimes.com). Semakin mahal PC gaming, tentunya spesifikasinya semakin lengkap dan tinggi.

  • Laptop gaming 
Berbeda dengan harga smartphone yang relatif terjangkau maupun laptop biasa yg bisa dibeli dgn harga di bawah Rp. 5 juta, maka harga laptop gaming jauh lebih mahal, di kisaran belasan bahkan puluhan juta rupiah. Mengapa bisa lebih mahal? Spesifikasinya yg memang utk seseorang yg maniak gim berkualitas, bisa menyimpan banyak gim berat, layar lebih lebar, terdapat alat pendingin, kapasitas baterai lebih besar (krn main gim bikin boros baterai sekitar 3 jam saja jika tanpa charger sudah low batt), fitur2 yg dpt meningkatkan skill gamer itu sendiri, dan bahkan lebih cocok untuk seseorang yg berprofesi sebagai gamer pro, pembuat game berat, dan editor video pro. Jangan heran laptop gaming lebih besar dan berat dari laptop biasa. Berat laptop  gaming minimal 2 kg, belum lagi desainnya yg besar bisa memakan tempat jika harus dibawa.

Bisa dikatakan, laptop gaming merupakan desktop gaming versi mini dan portabel, melihat spesifikasi dan harganya juga yang mirip2. Sehingga, bagi gamer pro yang senang bepergian, tentunya laptop gaming yang harus dipilih, sedangkan bagi gamer pro rumahan, desktop gaming yang dipilih.

Saya kurang mendapatkan info tentang sejarah laptop gaming secara umum, namun menurut wikipedia, sekitar tahun 2006, laptop gaming mulai bermunculan untuk mengakomodasi kebutuhan para gamer, termasuk gamer pro yang senang bepergian (jarang di rumah) dan mereka ingin kualitas desktop gaming bisa dibuat versi mini dan portabel.

Langsung to the point saja, karakter konsumen Indonesia umumnya menyukai produk berkualitas, minimalis, dan harganya terjangkau. Maka, laptop gaming (tahun 2018/2019) yg memenuhi kriteria tsb memiliki harga jual di bawah Rp. 10 juta trmsk murah, meliputi: HP14AM101TX, ASUS A456UR-FA131T, dan Acer Aspire E5 475G-73A3. Sebenarnya masih ada beberapa lagi dengan harga di atas merek2 yg disebutkan tadi, tapi tetap dengan kisaran harga Rp 11 juta ke bawah.
Ini Laptop Gaming Termurah (Merek HP 14AM101TX di Kisaran Rp. 7 Jutaan). Sumber: bukalapak.com
    • VR, AR, & MR 
    Pada dasarnya, baik Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), maupun Mixed Reality (MR) merupkan gim simulasi kekinian menggunakan alat khusus untuk melihat dan masuk ke dunia gim tsb. Di Indonesia VR yang terlihat lebih berkembang daripada AR dan MR. Mengingat gim tsb merupakan bagian dari ekonomi kreatif dan digital, maka menjadi wewenang Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk membantu mengembangkan itu semua. Sejauh ini sudah mulai terlihat (walau belum optimal) misalnya dengan sering diadakannya pameran IT dan gim lokal.

    Perbedaannya VR, AR, dan MR:
    1. VR merupakan gim yang membuat pengguna dapat berinteraksi ke lingkungan yang disimulasikan. Lingkungan yang disimulasikan tsb bisa merupakan lingkungan nyata yang disimulasikan maupun lingkungan yang hanya ada dalam imajinasi saja (sumber: wikipedia). Dibanding AR dan MR, VR yang paling sederhana teknologinya. Walaupun demikian, tetap saja inovasi tsb membutuhkan biaya yang mahal. Jika pemerintah tidak memberi dukungan VR akan sulit berkembang. Di Indonesia sendiri, gim VR sudah mulai menjamur (terutama berbasis android melalui aplikasi) walaupun lebih sering muncul di pameran saja. Sebagai contoh, saya berkesempatan mencoba gim VR lokal Kaaba Experience tentang seputar ibadah haji dan umrah (mini virtual tour) saat menghadiri pameran IT di Technopark Cimahi pada tahun 2018. Di gim tsb, saya merasakan sensasi berada di Masjidil Haram, melihat pemandangan di semua sisi, ke depan belakang kiri kanan, atas, dan bawah. Secara grafis lumayan, walaupun secara gameplay tidak terlalu istimewa, hanya sekedar melihat pemandangan saja ditemani lantunan suara azan yang merdu dan melihat jemaah lain yang sedang beribadah. Memang masih dalam penyempurnaan, harapan ke depannya ada unsur edukasi dan gerakan yang bermanfaat juga, misal gerakan berwudhu, salat, berzikir, menyapa jemaah lain, minum air zam-zam, tawaf, dsb. Tapi, bagaimanapun, karya mereka yang mulai diterima di luar negeri tetap patut diapresiasi. Bangga terhadap karya anak bangsa.
    Saya Mencoba Pengalaman Baru dengan Bermain Gim VR Lokal Mini Tour Haji & Umrah, Buatan Kaaba Experience

    2. AR merupakan penggabungan lingkungan dunia maya ke dalam lingkungan nyata. Jadi, lingkungan maya masuk ke dalam lingkungan nyata. Hal ini lebih kompleks dari VR, mengingat ada 2 lingkungan di situ, baik lingkungan maya maupun nyata. Ada interaksi yang lebih luas, tidak hanya sesama gamer, tapi juga dengan lingkungan luar, seperti tetangga, pengguna jalan, dsb. Tentunya jangan sampai terlalu fokus bermain gim AR sampai lupa bahaya mengintai seperti tidak memperhatikan kondisi jalan raya sampai akhirnya terserempet mobil dan terjatuh ke selokan😜. Contoh gim AR (di smartphone) pada tahun 208 yang fenomenal adalah Pokemon Go. Gim buatan Jepang begitu populer di kalangan gamer Indonesia.
    Gim AR Pokemon Go: Menangkap Makhluk Imajinatif di Lingkungan Nyata. Sumber: dexerto.com

    3. MR merupakan penggabungan dunia maya dan nyata, tapi obyek dapat berinteraksi secara fisik dan digital secara bersamaan (sumber: wikipedia). Jelas MR lebih kompleks dari AR yang hanya mencari obyek bersifat maya di dunia nyata. Karena itulah, teknologi MR lebih canggih dan mahal daripada VR dan AR. Teknologi MR bermanfaat bagi perusahaan untuk membuat dan meriset suatu prototype atau desain. Di Indonesia, MR belum terlalu familiar mengingat mahalnya inovasi tsb.
    Mixed Reality, Kita bisa Menyentuh Langsung Obyek tsb utk Kepentingan Riset. Sumber: juegostudio.com

      • Fenomena gim online sampai naik kelas menjadi eSports
      Gim online sendiri muncul pada tahun 2001, dgn gim fenomenalnya (termasuk di Indonesia) adalah gim perang Counter Strike, yaitu gim bertema peperangan yg mengutamakan kerja sama tim dan tentu saja keahlian gamer itu sendiri. Gim tsb menggunakan first-person shooting game, shg lbh menegangkan krn satu org hny memainkan 1 peran (1 tentara) dgn mengunakan 1 unit PC (Personal Computer). Tren gim online smkn meningkat thn 2017 an jg mengedepankan interaksi nyata dgn maraknya kompetisi gim online massal yg terpusat tempatnya n menyediakan hadiah yg menggiurkan. Shg, dpt dikatakan gim online bagi penggemarnya bs jd peluang utk menambah penghasilan n teman jg, krn kompetisi akn terpusat n mendatangkan komunitas pehobi gim online..

      Agustus 2018, gim online di Indonesia benar2 naik kasta karena dipertandingkan menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan untuk pertama kalinya pada pesta olahraga tingkat Asia: Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, Indonesia. Di sini gamer sudah sejajar dengan atlet profesional sehingga disebut juga gamer pro. Gim2 yg dipertandingkan meliputi lintas genre (tidak sebatas bertema olahraga saja) tapi memiliki kesamaan yaitu membutuhkan strategi dan kerja sama tim. Gim tsb meliputi :
      1. League of Legends (gim pertempuran multipemain)
      2. Pro Evolution Soccer (gim sepak bola) .
      3. Arena of Valor (gim pertempuran multipemain)
      4.Clash Royale (gim pertempuran)
      5. Starcraft (gim strategi)
      6. Heartstone (collectible card game)
      Namun, eSports di Asian Games 2018 masih sebatas olahraga demonstrasi, di mana medali yang diperebutkan di cabang eSports ini tidak akan dimasukkan dalam klasemen medali resmi secara keseluruhan (sumber: wikipedia).
      Di Rumah Sendiri, Indonesia (Asian Games 2018), Cabang eSports pun juga Dikuasai Tiongkok, Kenapa kok Dominan Sekali Prestasi Olahraga Negara Tirai Bambu ini? Kasih lah Kesempatan ke Indonesia yang Memang Generasi Mudanya Maniak Online Game bisa Anteng Berjam2. Ga Percaya? Coba Cek di Warnet Terdekat saat Pulang Sekolah atau Liburan😜. Sumber: tekno.tempo.co
      Kesuksesan eSports di Asian Games 2018 membuat cabang olahraga tsb akan kembali dipertandingkan di pesta olahraga Asia Tenggara: SEA Games 2019 Filipina untuk pertama kalinya. Total ada 6 medali emas yang akan diperebutkan dan kali ini dihitung mewakili negara, yaitu 2 untuk konsol, 2 utk PC (Personal Computer), dan 2 untuk mobile. Gim2 yg resmi akan dipertandingkan nanti meliputi:
      1. Mobile Legends: Bang-Bang (gim mobile, pertarungan multipemain)
      2. DOTA (gim PC, pertarungan multipemain)
      3. Starcraft II (gim PC, strategi)
      4. Tekken 7 (konsol, gim pertempuran duel satu lawan 1)
      5. Arena of Valor (gim mobile, pertempuran)
      6. NBA 2K19 (konsol, gim olahraga basket)
       (sumber: detik.com)

      Lalu di mana sisi sport-nya? Menurut saya, seperti halnya catur yang termasuk olahraga otak dan membutuhkan persiapan fisik yg kuat sebelum hari-H agar konsentrasi terjaga (karena bermain catur bisa berjam2), maka eSports pun membutuhkan kecerdasan otak, strategi tim, dan persiapan fisik yang kuat. Menurut Soledad O'Brien, Co-host FOX News, apapun yg memiliki struktur, model bisnis, hadiah uang, dan kompetisi yang tergolong level tingkat atas, itu semua bisa digolongkan sebagai olahraga (dikutip dari Gamesport). Lalu, beliau melihat eSports dari sudut pandang bisnis, adanya organisasi yang menaungi, jumlah penonton, hak siar, cakupan media, hingga hadiah uang. eSports pantas disebut olahraga diperkuat oleh pndapat Helen Sarita dari KOI, bahwa eSports membutuhkan tenaga manusia, berupa ketangkasan, kecepatan, dan strategi tim untuk meraih kemenangan. Dan itu semua butuh proses yang harus dilatih (sumber: https://m.kumparan.com). Kalau saya sih melihatnya Esports ini membutuhkan gabungan skill individu, kesiapan fisik (termasuk latihan), mental, penguasaan IPTEK, dan kerja sama tim untuk meraih kemenangan. Mereka berkompetisi di bawah tekanan, ditonton orang banyak, latihan berkali2, dan tetap mengedepankan sportivitas. Di samping itu, harus ada skill khusus, kelincahan dan ketangkasan untuk menggunakan tombol permainan seperti joy stick, bukankah itu olahraga tangan juga😁?

      Demikian artikel saya, semoga ke depannya gim2 di Indonesia bukan sebatas hobi, tapi bisa menjadi industri yang meramaikan ekonomi kreatif dan digital Indonesia, menciptakan lapangan kerja bagi banyak pihak, serta bisa bersaing di tingkat internasional. Kehadiran gim2 lokal harus didukung oleh pemerintah setempat agar bisa bersaing dengan gim2 mapan dari luar negeri. Lalu, lestarikan juga gim tradisional agar tidak punah, salah satunya dimodifikasi menjadi gim modern berbasis aplikasi. Hapus segera stigma bahwa main gim hanya buang2 waktu dan kerjaan anak kecil, ganti dengan mindset main gim hanya sebatas mengisi waktu luang (gim sesuai segmen tentunya), namun jika diseriuskan bisa menjadi bisnis yang menggiurkan. Dari sisi pengguna/gamer pro saja, itu bisa mendapatkan penghasilan puluhan juta rupiah bahkan lebih, belum dari sisi penyewa (warnet) dan juga pembuatnya. Keberadaan gim tetap harus mendapatkan pengawasan dari lembaga khusus (harus dibuat) agar selalu bermanfaat, ada unsur edukasi, jelas segmennya (misal klasifikasi gim untuk usia tertentu), dan terhindar dari hal2 negatif seperti mengajarkan kekerasan, radikalisme, pornografi, dsb.

      Silakan mampir juga ke blog saya yang kedua (tentang kesehatan dan kemanusiaan, full text english) dan ketiga (tentang masalah dan solusi kelistrikan). Semoga bermanfaat. Terima kasih. Berikut link-nya:
      Blog 2: healthyhumanityvicagi.blogspot.com
      Blog 3: listrikvic.blogspot.com


      Penegakan Hukum di Indonesia yang Belum Merdeka ⚖️

      Tidak terasa, sebentar lagi sudah tanggal 17 Agustus, yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Apakah rakyat Indonesia sudah benar-benar m...